Jumat, 17 Februari 2012

Penghilang Lelah dan Suntuk


Di tengah kesibukannya sebagai karyawan di Kota Lampung, Dwi Prasetio (27), masih tetap menyempatkan waktunya untuk mencari dan merawat berbagai jenis burung berkicau yang kini banyak digemari masyarakat, seperti burung jalak, murai, perkutut dan berbagai jenis burung langka lainnya.
Ketika ditemui dikediamnnya di Jalan kampus, Kelurahan kuripan, kotaagung, Lampung, Rabu (3/5) lalu, sahutan demi sahutan suara burung langsung menyambut kedatangan wartawan koran ini. Suasana panas terik yang saat itu menyinari Kota Lampung pun, seakan sirna setelah mendengar kicauan burung milik lelaki yang akrap disapa Dwi ini.
Tak kurang dari 10 jenis burung berkicau terpampang di halaman depan, samping dan belakang rumahnya. Tiap jenis burung, sudah memiliki suara khas masing-masing, sehingga setiap kali seekor burung berkicau, maka burung lainnya pun ikut mengeluarkan kicauan mereka, hingga terus menerus tanpa henti. Merdu sekali!
Ternyata, kicauan burung-burung peliharaanya inilah yang membuat Dwi tetap bersemangat menjalani aktifitas, baik di kantor maupun di rumahnya sebagai kepala keluarga. Pasalnya, kicauan burung-burung berkicau ini, menjadi obat penghilang lelah dan suntuk bagi Dwi acap kali tiba di rumahnya.
“Sahutan kicau burung-burung inilah yang menjadi obat bagi saya untuk menghilangkan rasa lelah dan suntuk dalam beraktifitas. Kan kita terkadang merasa bosan dan jenuh menjalani aktifitas, jadi begitu sampai di rumah dan mendengarkan kicauan burung ini, semuanya kembali normal,” akunya.
Hobi memelihara burung ini, sebut Dwi, didapatnya sejak masih kecil. Karena di tempat tinggalnya waktu itu, begitu banyak jenis burung yang mudah ditangkap dan dipelihara. Namun, setelah beranjak dewasa, hobi memelihara burung itu pun sempat sirna. Sebab, sulitnya menemukan burung ditengah perkampungan yang sudah berubah menjadi Kota. Selain itu, dirinya juga disibukan dengan pendidikan.
Setelah berkeluarga, sekitar empat tahun silam, barulah hobi ini kembali digelutinya dengan mencari burung berkicau ini ke berbagai daerah yang ada di Sumut. Untuk mendapatkan burung berkualitas, Dwi tak segan-segan mengeluarkan fulus (uang, Red) dalam jumlah besar. Hal itu dilakukan demi meneruskan hobinya yang sempat hilang.
Kini, dengan banyaknya koleksi burung yang dimiliki, Dwi tak perlu lagi bersusah payah untuk memilih obat penghilang lelah dan suntuknya. Dia cukup mendengar suara kicauan burung-burungnya, yang setiap saat menghibur dirinya dikala suka maupun duka.
“Yah, mudah-mudahan asal dengar kicauan burung-burung ini, semua penyakit hilang, pokoknya, suntuk-suntuk dari luar sana, begitu sampai di rumah, langsung hilang,” bilangnya sembari membersihkan sarang burung di belakang rumahnya.
Mengajari Burung Berkicau
Semula, Dwi Yanto hanya hobi memelihara burung, tanpa memperhatikan jenis burung dan suara khas masing-masing burung yang dipeliharanya. Tapi kini, dia sudah menjadi guru suara bagi burung-burung peliharaanya dengan mengajari burung-burung tersebut dengan berbagai jenis suara yang diinginkannya.
Seperti burung Jalak miliknya, yang dulunya tak bisa menirukan berbagai jenis suara selain suaranya, kini sudah pandai menirukan berbagai suara, seperti ayam, memanggil orang dan mengucapkan salam. “Menciptakan ‘keahlian’ burung-burung ini yang paling sulit, minimal kita butuh waktu setengah tahun untuk dapat menirukan satu macam jenis suara,”sebutnya.
Untuk melatih burung-burung peliharaanya, Dwi mengaku, harus setiap saat menirukan atau memperdengarkan suara yang diinginkannya kepada burung peliharaanya itu. “Kalau mau cepat, kita harus setiap saat mendengarkan suara yang kita inginkan kepada burung ini, kalau tidak, sampai kapanpun dia tidak akan mempu menirukan suara yang kita inginkan itu,” sambungnya.
Untuk itu, meski terkadang pulang kerja agak malam, Dwi tetap menyempatkan diri untuk mendidik burung koleksinya. Saat ini, dari 10 jenis burung miliknya, hanya tinggal seekor elang dan seekor murai saja yang belum dilatihnya.
Itupun karena kedua burung ini baru didapat dari temannya.” Dua burung inilah yang belum dijinakkan, karena baru diantar teman,”katanya menunjuk kedua jenis burung tadi.
Karena keahliannya itu, tak jarang rekan-rekannya meminta dia untuk mendidik burung-burung mereka, agar memiliki suara yang khas. Selain itu, tak sedikit pula orang yang menawar burung peliharaanya itu untuk diperjual belikan.
“Kalau orang menawar, sudah entah berapa banyak, tapi saya tidak menjualnya, karena burung-burung pelihraan saya ini sudah saya anggap keluarga sendiri. Kalaupun ada yang ingin membeli, saya sediakan dulu burung yang lain dan saya didik untuk dijual belikan,”tuturnya.
Sangking banyaknya peminat, dia mengaku kewalahan menyediakan burung yang diinginakn pembelinya. Sebab, burung-burung yang sangat diminati oleh masyarakat, sangat sulit untuk dijumpai. “Sekarang ini mencari burungnya yang sulit, kalau pembelinya banyak saja,”ucapnya.
Berburu Hingga ke Pekanbaru
Demi mendapatkan jenis burung yang berkualitas, Dwi harus memasang kaki (agen) di setiap daerah di Lampung, Jawa, Tebing Tinggi hingga Aceh dan Pekanbaru.
Karena, untuk mendapatkan burung-burung berkicau ini, tentu harus di daerah yang memiliki kawasan hutan atau perkebunan kelapa sawit yang luas. Untuk itu, dirinya selalu berkoordinasi dengan agen-agen di tiap daerah yang selalu mendapatkan burung-burung penghibur ini.
Bahkan, jika sedang libur kerja, ayah dua anak ini juga kerap turun ke lapangan untuk mencari jenis burung yang diinginkannya. “Kalau ada waktu, saya juga menyempatkan diri mencari burung ini ke tengah perkebunan sawit yang ada di Langkat dan Tebing Tinggi,” cetusnya.
Bahkan menurutnya, demi mendaptkan burung yang diminatinya, dia tak segan-segan untuk meminta izin kepada atasannya agar diberikan izin untuk cuti. “Asal ada barang bagus, kita siap turun ke lokasi, biarpun harus meninggalkan pekerjaan,” ujarnya bersemangat.
Atas hobinya ini, tak jarang dirinya mendapat perlawanan dari sang istri. Sebab, hampir seluruh waktunya dihabiskan untuk pekerjaan dan burung peliharaanya itu. Namun baginya, keresahan sang istri dianggap wajar, mengingat kedua anaknya sudah mulai beranjak besar. “Biasanya itu kalau ribut-ribut kecil, namanya juga hobi,”katanya tersenyum.
Dwi juga bilang, hobinya ini akan tetap digeluti selagi tidak menghancurkan rumah tangganya. “Namanya hobi mau bilang apa lagi, selagi tidak menghancurkan rumah tangga, tetap akan digeluti,” tegasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar